Tradisi Husafara (Safar) Negeri Hitu. Oleh Soleman Pelu
Asal-usul penamaan
Mengutip penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua arti yaitu bisa berarti kosong (Shafar) atau dapat juga berarti warna kuning (Shufrah).
Adapun sebab penamaan Safar berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan rumah atau kediaman mereka (sehingga kosong) untuk berperang atau bepergian jauh. Pendapat tersebut diceritakan dalam al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam bahwa orang-orang yang ditinggal bepergian ini mengeluh sambil berkata, “Shafira an-Nasu minna shafaran (Orang-orang mengosongkon kota (meninggalkan) kita sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta).” (Juz 6, h. 120)
Mitos seputar Safar
Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut.
Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh kejelekan. Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin berawak panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit.
Keyakinan terhadap hal-hal tersebut dibantahkan manakala Islam datang. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ
Artinya: "dari Jabir Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya." (HR Muslim, no 4120)
Dalam hadits lain disebutkan pula:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan)." Lalu seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapakah yang menulari yang pertama." (HR Bukhari, no 5278).
Setelah mengetahui sejarah Safar dan mitos yang ada di dalamnya, tentu umat Islam perlu menjadikan hal ini sebagai pedoman. Sebab, tidak ada yang namanya bulan kesialan. Jangan sampai pemahaman mitos yang dibawa oleh segelintir orang dikonsumsi bulat-bulat tanpa adanya upaya memvalidasi mitos yang ada.
Semua waktu yang diciptakan Allah Ta’ala adalah kesempatan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada waktu sial dan mitos ini telah dibantah dengan kedatangan Islam itu sendiri. (Isyatami Aulia, ed: Nashih).
Safar, dalam konteks Islam, memiliki dua pengertian utama: bulan dalam kalender Hijriah dan perjalanan. Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Secara bahasa, Safar berarti "sepi" atau "sunyi" karena pada masa lalu, masyarakat Arab sering bepergian pada bulan ini, membuat rumah dan kota menjadi sepi. Selain itu, Safar juga berarti melakukan perjalanan. Dalam syariat Islam, safar memiliki ketentuan dan adab tertentu, terutama terkait dengan ibadah seperti shalat dan puasa.
Safar dalam paandangan masyarakat Hitu
Mandi Safar adalah tradisi budaya yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di Indonesia, khususnya di daerah pesisir, pada bulan Safar. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan mandi di laut atau sungai sebagai simbol membersihkan diri dari bala atau musibah, serta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Budaya memiliki makna penting bagi suatu masyarakat. Budaya timbul karena adanya interaksi antar sesama manusia. Oleh sebagian besar warga, hilang budaya berarti hilang jati diri. Tak jarang, banyak yang kemudian melestarikan budaya mereka masing-masing. Meskipun ada beberapa kepercayaan dan mitos yang berkembang di masyarakat terkait bulan Safar, seperti anggapan bahwa bulan ini membawa sial, hal tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Umat Islam dianjurkan untuk mengisi bulan Safar dengan berbagai amalan kebaikan seperti memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, memperbanyak shalat sunnah, dan memperkuat iman. Islam juga mengajarkan adab-adab dalam melakukan perjalanan, seperti membaca doa ketika naik kendaraan, membaca doa ketika tiba di tempat tujuan, dan menjaga adab-adab lainnya selama dalam perjalanan.
Husafara juga memiliki hikmah, seperti membuka akhlak dan perilaku seseorang, serta memberikan pelajaran dan pengalaman hidup yang berharga. Misalnya seperti yang dilakukan masyarakat Negeri Hitu, Di setiap bulan Safar dalam kalender islam, masyarakat di negeri tersebut menggelar tradisi mandi safar. Oleh warga menyebutnya "Husafara". Tradisi ini bentuk dari mereflesikan sebuah peristiwa yang pernah terjadi tanah Arab. Dimana di hari Rabu pekan terakhir bulan safar, datang sebuah wabah yang melanda salah satu perkampungan Islam di tanah arab. Untuk keluar dari wabah tersebut, warga setempat kemudian berhijrah sebentar meninggalkan kawasan mereka. Disaat mereka kembali, mereka lalu mensucikan diri dan menggelar doa bersama untuk menolak bala. Ujian itu terjadi di bulan safar penanggalan islam. Nah, dengan masuknya syiar Islam ke tanah Hitu, kita kemudian menjadikan ini sebagai bentuk mereflesikan diri untuk mensucikan diri di bulan safar dengan cara merendamkan tubuh di air laut.
Mandi safar di Hitu dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir di bulan safar. Sebelum tradisi Husafara digelar, lebih dulu para tokoh agama dan tetua adat melakukan doa syukur di beranda rumah raja. Selain itu juga, mereka akan mendoakan air yang sebelumnya sudah disiapkan di dalam kendi tua. Air ini nantinya digunakan oleh warga untuk membasuh wajah dan anggota tubuh lainnya. Nanti setelah ritual itu dilakukan, barulah raja, tokoh adat serta tokoh agama berjalan menuju pelabuhan Huseka'a Hitu untuk prosesi doa syukur lebih lanjut.
Pelaksanaan
Bagi masyarakat Negeri Hitu, mandi safar merupakan ritual penting. Mandi Safar dilaksanakan pada setiap hari rabu terakhir di bulan Safar pada tiap tahunnya berdasarkan kalender Hijriah. Tahun ini masyarakat Negeri Hitu masih melakukan ritual ini. Dimulai dari pengambilan air di pagi hari,dan menyimpan air tersebut di dalam kendi. Yang lebih menarik dari ritual ini, air yang di ambil harus langsung dari mata air. Setelah itu diikuti doa-doa, kemudian ditutup prosesi berdoa di laut saat matahari terbenam. Prosesi ini dilakukan oleh para pemuka agama dan tokoh adat. Pada ritual biasanya hampir semua rumah menyediakan Lamet yaitu kue tradisional yang terbuat dari Kasbi (singkong) yang diparut dan dicampur dengan kelapa serta gula merah kemudian dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus. Tekstur Lamet yang lengket mengandung filosofi untuk merekatkan dan mempererat hubungan-hubungan persaudaraan pada masyarakat Hitu. Panitia ritual kali ini juga menyediakan Lamet gratis bagi para pengunjung Mandi Safar. Tradisi Mandi Safar biasanya dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar atau pada minggu terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Masyarakat akan berkumpul di tepi laut atau sungai untuk melakukan ritual ini. Acara dimulai dengan doa bersama, yang dipimpin oleh tokoh agama atau tetua adat. Setelah itu, mereka akan mandi atau membasuh wajah dan tubuh di air yang sudah didoakan.
Makna dan Tujuan
Nilai-nilai yang Terkandung
Perayaan Husafara, khususnya tradisi Mandi Safar, mengandung beberapa nilai penting. Diantaranya adalah nilai kebersamaan, keagamaan, dan budaya. Tradisi ini juga mengajarkan untuk menghilangkan mitos kesialan yang sering dikaitkan dengan bulan Safar dan memperkuat keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah.
Berikut adalah beberapa nilai yang terkandung dalam perayaan Safar, khususnya tradisi Mandi Safar:
Nilai Kebersamaan dan Persatuan:
Mandi Safar seringkali melibatkan seluruh masyarakat, dari berbagai lapisan usia dan status sosial, menciptakan suasana kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan. Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat rasa kekeluargaan di antara anggota masyarakat.
Nilai Keagamaan:
Perayaan Safar, termasuk Mandi Safar, mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah, seperti berdoa, berzikir, dan bersedekah. Tradisi ini juga mengajarkan untuk meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah dan bukan karena kesialan bulan Safar. Umat Islam diajak untuk menjauhi mitos dan takhayul yang tidak sesuai dengan ajaran agama, serta memperkuat iman dan ketakwaan.
Nilai Budaya:
Mandi Safar merupakan bentuk pelestarian budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk menjaga kearifan lokal dan memperkuat identitas budaya masyarakat.
Nilai Menghilangkan Mitos dan Takhayul:
Salah satu tujuan utama Mandi Safar adalah untuk menghilangkan mitos kesialan yang sering dikaitkan dengan bulan Safar. Umat Islam diajak untuk memahami bahwa bulan Safar, seperti bulan-bulan lainnya,adalah waktu yang diciptakan Allah dan bukan membawa kesialan.
Nilai Perlindungan dan Keselamatan:
Masyarakat yang melaksanakan tradisi Mandi Safar berharap terhindar dari musibah, penyakit, dan bencana. Doa dan amalan yang dilakukan dalam tradisi ini juga bertujuan untuk memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah SWT.
Nilai Pengendalian Diri dan Kesabaran:
Beberapa tradisi Mandi Safar melibatkan puasa dan amalan lain yang dapat melatih pengendalian diri dan meningkatkan kesabaran. Dengan memahami makna bulan Safar, umat Islam diajak untuk menjalani hidup dengan penuh optimisme, tawakal, dan keikhlasan. Dengan demikian, perayaan Husafara, khususnya tradisi Mandi Safar, bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga mengandung nilai-nilai penting yang dapat memperkuat keimanan, persatuan, dan kearifan lokal masyarakat



Komentar
Posting Komentar